Gadis Mungil - 1
Sentuhan lembut angin malam menemani, pukul 3.32 sekarang, bener bener ga kerasa. Padahal, setiap hari bilangnya “mau tidur awal”. Entah kenapa sepi sangat menemani, membuat setiap bayangan terlihat semakin jelas. Ya, bayangan yang terbentuk begitu saja, halusinasi bekerja.
Kali ini tergambar seorang gadis mungil
yang sedang jatuh cinta, dan mungkin bisa dibilang terlalu jauh. Tapi dia berbeda,
tak seperti gadis yang sedang jatuh cinta pada umumnya, gadis gadis yang menari
di awan dan berterbangan mengepakkan sayapnya, dia terlihat menangis tersedu.
Duduk dan bersandar pada dinding kamarnya.
Aku tak berhenti melihatnya, dia
tetap disana dan tak kunjung menghilang. Tak lama, aku melihat gadis itu tersenyum,
dan dia mencoba berdiri dari duduknya. Tapi ternyata dia bukan berdiri untuk
bangkit, dia berdiri dan terlihat merintih, dia persis seperti seseorang yang menerima
kegagalannya.
Gunting besar itu diambilnya. Rasaku
ingin memberhentikannya, tapi…. dia berada diluar jangkauanku, dia tampak
sangat dekat, tapi mereka tak nyata. Aku sangat mengkhawatirkannya. Sampai ku
liat, gunting itu dia goreskan ke tangannya, berkali kali, dan berulang ulang.
Dia menangis, kesakitan.
Entah apa yang menghantui pikirannya
kala itu, aku benar benar tak bisa melihatnya dengan jelas. Mungkin, satu hal
memberinya pelajaran, dan dia tak cukup bersabar. Mungkin dia menangis dalam
kesendirian dan putus asa atas perhatian. Aku tak tahu pasti.
Kedipan mata ini dipenuhi genangan
air yang siap meluncur di pipiku, melihat gadis mungil yang menyakiti dirinya
sendiri. Dia menghilang, tiba tiba dan tak tahu kemana. Aku hanya berharap, dia
baik-baik saja.
Selamat tidur, gadis mungil.
Komentar
Posting Komentar